STORY KEJAKSAAN - Jajaran Kejaksaan RI kembali menunjukkan jati diri sebagai Lembaga Penegak Hukum yang tak hanya berfokus pada upaya menghadirkan penegakan hukum yang adil bagi semua masyarakat. Korps Adhyaksa ini juga menghadirkan sisi humanis kala berbagi rasa dengan para penyandang disabilitas.
Program humanis Kejaksaan itu hadir di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang Raya, Jateng pada Selasa, 29 September 2026. Melepas atribut sebagai sang penyidik dan penuntut umum, para jaksa di lingkungan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng dan Kejaksaan Negeri (Kejari) se-Semarang Raya berbaur bersama peserta didik SLB tersebut.
Dalam acara yang dihadiri Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Prof. Dr. Reda Manthovani didampingi Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jateng Teguh Subroto, S.H.,M.H., jajaran Adhyaksa menggelar kegiatan penyerahan 1.000 Pasang Sepatu Kepada Siswa/i SLB Negeri Semarang raya tersebut.
Kegiatan itu juga dihadiri Sekjen Asosiasi Badan Pemusyawaratan Daerah Nasional (Abpednas) dan Asosiasli Satuan Pelindungan Masyarakat Nasional (ASLINMAS) beserta jajaran, Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakirana (IAD) Wilayah Jawa Tengah beserta pengurus, Seluruh Asisten pada Kajati Jateng serta Kajari se-Semarang raya.
Penyerahan bantuan 1.000 pasang sepatu ini merupkan wujud nyata kepedulian lembaga Adhyaksa terhadap pemenuhan kebutuhan dan hak pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Kejaksaan dalam menghadirkan kepedulian dan kebermanfaatan di tengah masyarakat, khususnya bagi anak-anak penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian dan dukungan bersama.
Kepada jajaran Kejaksaan, Jamintel dalam sambutannya menyampaikan bahwa menjadi jaksa bukan semata tentang menjalankan kewenangan yang diberikan oleh negara, tetapi tentang bagaimana kewenangan digunakan untuk menghadirkan keadilan yang hidup di tengah masyarakat.
"(Kegiatan) ini harus dicontoh agar kalian menerapkan, membentuk sikap jaksa yang humanis. Sikap jaksa yang peduli terhadap sesama, karena apabila kita hanya menekankan kewenangan kita semata, kita hanya menegakkan keadilan yang semu, keadilan yang tidak terasa kepada masyarakat," ujar Jamintel.
Lebih jauh Jamintel mengingatkan bahwa kewenangan tanpa empati hanya akan melahirkan keadilan yang terasa jauh dan semu.
Menumbuhkan jiwa jaksa yang humanis, ujar Jamintel, berarti menghadirkan penegakan hukum yang tegas namun tetap berkeadaban, berintegritas namun tidak kehilangan kepedulian terhadap sesama. Keadilan sejati bukan hanya ketika hukum ditegakkan, tetapi ketika masyarakat dapat merasakan bahwa hukum hadir untuk melindungi, memberikan kepastian, dan menyentuh hingga ke relung hati mereka.
"Kalau kita melakukan penegakan hukum dengan mekanisme, metode yang humanis, maka keadilan itu akan benar-benar terasa di hati masyarakat," ujarnya.
Lewat bantuan yang diberikan kepada para siswa SLB, Jamintel berharap komunitas Sahabat mata dapat menjalankan aktivitasnya lebih lancar dan lebih baik sehingga bisa menghasilkan produk yang bisa beredar secara komersial.
"Terutama film tadi, yang saya nilai luar biasa, agar bisa beredar secara komersial. Agar publik di Indonesia, di bumi Nusantara ini, dapat melihat kemampuan kalian semua," pesan Reda Manthovani.
Pada hari yang sama, Jamintel didampingi Kajati Jateng juga turut menghadiri kegiatan Peresmian Pesantren Sahabat Mata "Khusus Tuna Netra" sbagai bentuk dukungan terhadap terwujudnya lingkungan pendidikan yang inklusif serta memberikan kesempatan yang setara bagi penyandang tunanetra untuk memperoleh pendidikan, pembinaan keagamaan, keterampilan, dan pengembangan kemandirian.
Keberadaan Pesantren Sahabat Mata Khusus Tuna Netra menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas netra untuk tumbuh, belajar, berkarya, dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Keterbatasan penglihatan tidak seharusnya menjadi hambatan untuk memperoleh pendidikan maupun kesempatan dalam mengembangkan potensi diri.
Install Story Kejaksaan
story.kejaksaan.go.id